Restrukturisasi Kepengurusan Jabar, ASAD Dorong Konsep Organisasi yang Efektif dan Efisien
Sumedang (25/08) – Pengurus Provinsi (Pengprov) PERSINAS ASAD Jawa Barat resmi melakukan restrukturisasi kepengurusan Langkah strategis ini disahkan langsung oleh Ketua Umum PB PERSINAS ASAD, Marsma TNI (Purn) H. Sukur M.Si (Han), dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) PERSINAS ASAD Jawa Barat.
Acara yang mengusung tema “Bersatu dalam Semangat, Berkarya untuk Negeri, Melangkah Menuju Indonesia yang Lebih Maju” ini digelar di Graha Aulia Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, pada Selasa (25/8/2026). Surat Keputusan (SK) restrukturisasi kepengurusan tersebut dibacakan oleh Sekretaris Umum PB PERSINAS ASAD, Weda Hendragiri.
Marsma TNI (Purn) H. Sukur menegaskan bahwa perampingan kepengurusan ini bertujuan agar roda organisasi dapat berjalan secara lebih efisien dan efektif. Ia menganalogikannya dengan filosofi budaya Sunda yang sangat mendalam.
“Ada istilah Sunda, saeutik mahi loba nyesa (sedikit cukup, banyak sisa/lebih). Jadi, efektif dan efisien itu bukan berarti kita pelit atau kikir, melainkan mendahulukan apa yang menjadi skala prioritas utama organisasi,” ujar H. Sukur dalam sambutannya.
Menurut Sukur, penyusutan jumlah pengurus hingga tersisa separuhnya ini juga bertujuan untuk menekan biaya operasional perjalanan dinas yang tidak perlu, sehingga anggaran organisasi dapat dialokasikan secara optimal untuk program kerja yang langsung menyentuh kebutuhan para pesilat.
Ia menjelaskan ada tiga pilar utama yang harus dijalankan demi membangun kemajuan organisasi PERSINAS ASAD ke depan, yaitu pembenahan internal organisasi (mekanisme kerja), peningkatan prestasi (SDM), serta pelestarian seni tradisi bela diri.
Satu hal yang membedakan PERSINAS ASAD dengan perguruan silat lainnya adalah basis pembinaannya yang kuat pada nilai-nilai keagamaan, pondok pesantren, dan tempat ibadah. Pembinaan ini bertujuan membentuk karakter pesilat agar tetap santun, rukun, kompak, dan tidak bersikap garang atau pamer kekuatan di sembarang tempat.
“Kenapa pesilat PERSINAS ASAD selalu serawung (bergaul), akrab, rukun, dan kompak dengan perguruan lain tanpa terlibat bentrok? Karena kita mempraktikkan 29 karakter luhur. Basic kita adalah pondok pesantren dan ilmu keagamaan,” tutur H. Sukur.
Meskipun mengedepankan kelembutan karakter, PERSINAS ASAD tetap memacu prestasi para pesilatnya di gelanggang pertandingan secara sportif. Sukur menegaskan adanya peningkatan target prestasi dari kepengurusan terdahulu.
“Dulu ada nasihat dari guru besar kita, ‘ora juara, ora opo-opo’ (tidak juara tidak apa-apa). Sekarang tingkatannya kita naikkan menjadi ‘juara akan lebih baik’. Yang terpenting tetap berbuat baik, tidak memprotes wasit, dan mencari kawan sebanyak-banyaknya,” tambahnya.
Seni bela diri pencak silat yang dikembangkan oleh PERSINAS ASAD kini juga semakin melebarkan sayapnya di luar negeri. PB PERSINAS ASAD secara resmi telah menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan komunitas pencak silat di Australia (AIDA Australia). Kerja sama ini nantinya akan melibatkan pertukaran pesilat dan guru silat ke luar negeri.
Tidak hanya di Australia, negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura juga menunjukkan ketertarikan besar untuk mengadopsi keilmuan silat dari PERSINAS ASAD. Bahkan, beberapa wilayah di Malaysia Timur berkeinginan agar didirikan cabang resmi ASAD di negara mereka.
Dengan tiga mesin organisasi yang terus ditata dengan baik mulai dari manajemen yang efektif, pembinaan pesilat yang berkarakter, hingga pelestarian seni budaya PERSINAS ASAD optimistis dapat terus melahirkan pesilat unggul yang berkarya untuk negeri dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia

