PERSINAS ASAD Bangkalan Perkuat Peran Humas dan Media Lewat Konsolidasi Nasional
Jawa Timur – Pengurus PERSINAS ASAD Kabupaten Bangkalan mendukung penguatan peran hubungan masyarakat (humas) dan media dalam tubuh organisasi. Hal tersebut disampaikan Ketua Abdullah Damanhuri melalui keikutsertaan pada Konsolidasi Nasional Bidang Humas dan Media yang digelar Pengurus Besar (PB) PERSINAS ASAD, Jumat (9/10/2026).
Konsolidasi tersebut diikuti secara daring dari studio mini di Aula Padepokan PERSINAS ASAD Bangkalan, di Junok, Bangkalan. Sementara itu, kegiatan tingkat nasional dipusatkan di Kantor Sekretariat PB PERSINAS ASAD, Jakarta.
Damanhuri menyampaikan konsolidasi penting untuk menyelaraskan pola komunikasi antara pengurus pusat dan daerah, “Setiap informasi harus dikonfirmasi agar berita tetap akurat dan berimbang. Dengan penyampaian informasi yang akurat, menarik, dan berkesinambungan, kiprah serta prestasi organisasi diharapkan semakin dikenal masyarakat luas,” ujar Damanhuri.
Menurutnya, penguatan humas dan media tidak hanya berkaitan dengan publikasi kegiatan organisasi. Lebih dari itu, media juga berperan mengangkat perjuangan para pesilat, perjalanan meraih prestasi, serta kegiatan pembinaan generasi muda.
“Memperkuat humas dan media ini juga sama saja memperkuat kontribusi PERSINAS ASAD dalam mendukung kemajuan pencak silat Indonesia serta menyukseskan salah satu program IPSI, yaitu mengembangkan seni bela diri pencak silat di dalam negeri maupun ke pentas dunia,” jelasnya.
Sementara itu, dari studio utama, Ketua Departemen Humas dan Media PB PERSINAS ASAD, H. Abdul Soleh, memaparkan mekanisme kerja kehumasan, termasuk tata cara pengiriman materi publikasi dari pengurus daerah kepada pengurus pusat.
Ia menjelaskan, materi publikasi yang dikirimkan dapat berupa kegiatan organisasi, pembinaan pesilat, kejuaraan, prestasi atlet, hingga aktivitas seni dan budaya pencak silat.
“Setiap materi publikasi perlu dilengkapi informasi yang akurat dan dokumentasi yang memadai, serta disesuaikan dengan ketentuan organisasi,” jelas Abdul Soleh.
Selain itu, koordinasi antara pengurus pusat dan daerah juga diperlukan untuk meninjau materi sebelum dipublikasikan. Hal ini mencakup penggunaan lambang organisasi, penyajian data, kualitas dokumentasi, hingga teknik wawancara.
“Melalui koordinasi ini, pengelola media di daerah bisa mendapatkan masukan sebelum materi diterbitkan. Dengan begitu, penggunaan lambang organisasi, penyajian data, kualitas dokumentasi, dan teknik wawancara dapat lebih diperhatikan sehingga publikasi yang dihasilkan semakin baik,” ujarnya.
Konsolidasi nasional ini dibagi menjadi dua sesi, yakni sore dan malam. Pada sesi sore yang berlangsung pukul 15.30–17.00 WIB, kegiatan diikuti lebih dari 200 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Selain mekanisme publikasi, pembahasan juga mencakup peningkatan kualitas dokumentasi, pengamanan akun digital, serta pengembangan pemberitaan mengenai prestasi pesilat dan pelestarian budaya pencak silat.
