Napak Tilas 33 Tahun PERSINAS ASAD di Papua Barat, Prestasi dan Karakter Luhur Jadi Target Utama
Papua Barat (03/05) – Pencak Silat adalah warisan leluhur asli Indonesia. Di setiap daerah tumbuh dan berkembang aliran pencak silat yang menandakan ciri khas masing-masing daerah, ada dari Minang, Betawi, Sunda, Jawa, Madura, Banjar, Bugis, Bali, Papua dan lain lain, sehingga di Indonesia ini terdapat ratusan perguruan silat berikut aliran turunannya, dari berbagai perguruan silat tersebut ada yang hanya bertujuan untuk olah raga, ada yang untuk seni, ada juga seni dan prestasi.
Semua, perguruan tersebut diwadahi bersama induk organisasi yang bernama IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia). PERSINAS ASAD salah satu perguruan yang lahir 30 April 1993 dan kini berusia 33 tahun merupakan perguruan yang keberadaannya sudah tersebar di seluruh Indonesia bahkan mancanegara dan telah turut mewarnai persilatan di Nusantara bersama-sama menciptakan kerukunan sesama perguruan. Baik didalam pertandingan maupun diluar pertandingan selalu kompak dengan perguruan lain semisal latihan bersama, bakti sosial, silaturahim syawal dll.
PERSINAS ASAD Papua Barat sejak berdirinya telah banyak berkontribusi bagi daerah seperti mengiikuti Pra PON, PON Beladiri, Kejurnas, POMNAS, POPNAS, O2SN, dan lain-lain. Selain itu pengurus PERSINAS ASAD Papua Barat juga ada beberapa orang yang menjadi pengurus baik di IPSI Papua Barat, IPSI Manokwari, IPSI Teluk Bintuni dan wasit juri daerah, satu orang wasit juri nasional dan satu orang wasit juri internasional.
Ketua PERSINAS ASAD Papua Barat Dwijo Sasono S. Pd. melaporkan bahwa disela-sela aktivitas sehari-hari warga PERSINAS ASAD masih tetap konsisten latihan, baik itu yang usia dini, remaja maupun dewasa berbasis 29 karakter luhur hal ini dengan tujuan untuk menjaga kesehatan juga adab yang mulai luntur dikalangan generasi bangsa terkini.
Bagi PERSINAS ASAD mengikuti turnamen adalah bukan untuk meraih juara namun untuk memperbanyak saudara, dengan semboyan yang selalu ditanamkan pada warganya ‘Seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak, A thousand friends are too few, one enemy is too many.” Tegas Dwijo.
