Bidang Seni Beladiri dan Tradisi PB ASAD Rumuskan Jurus Pembuka Pencak Silat
Jakarta (26/04) – Pengurus Besar (PB) PERSINAS ASAD melalui Bidang Seni Beladiri dan Tradisi mengambil langkah strategis dengan merumuskan jurus pembuka yang mengintegrasikan sembilan aliran pencak silat sebagai bagian dari penguatan identitas sekaligus standar pembinaan nasional.
Program ini menjadi salah satu fokus utama dalam Musyawarah Pleno PB PERSINAS ASAD yang digelar pada 24–26 April 2026 di Jakarta.
Forum tersebut menyoroti pentingnya menjaga kemurnian tradisi di tengah dorongan standarisasi pembinaan yang semakin menguat.
Ketua Bidang Seni Beladiri dan Tradisi PB PERSINAS ASAD, Latief Hananto Fani, yang juga merupakan staf di Kementerian Pertahanan RI, menegaskan bahwa jurus pembuka ini dirancang sebagai simbol pemersatu di tengah beragamnya aliran yang ada.
“Jurus pembuka ini bukan sekadar rangkaian gerak, tetapi sebagai bentuk penghormatan kepada sesepuh pencipta gerak, dan juga representasi dari kekayaan aliran pencak silat yang kita miliki. Ini menjadi identitas bersama yang akan ditanamkan sejak awal pembinaan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sembilan aliran yang menjadi dasar penyusunan jurus pembuka tersebut meliputi Cikaret, Cimande, Cikalong, Sahbandar, Kuntau, Nagan, Garudamas, Tangkap Menangkap, serta Singa Mogok.
Namun, proses perumusan tidak sepenuhnya berjalan tanpa dinamika. Perbedaan karakter teknik dan filosofi antar aliran sempat memunculkan perdebatan dalam forum, terutama terkait batas integrasi tanpa menghilangkan keaslian masing-masing.
“Kita tidak bisa menutup mata, setiap aliran punya prinsip dan kebanggaan. Tantangannya adalah bagaimana merangkumnya tanpa menghilangkan ruh dari masing-masing,” tegas Latief.
Menurutnya, integrasi berbagai aliran dilakukan secara selektif melalui kajian mendalam, sehingga menghasilkan gerakan yang tidak hanya estetis, tetapi juga memiliki kekuatan teknik serta makna filosofis.
“Setiap unsur yang dimasukkan telah melalui proses pembahasan. Kita ingin jurus ini kuat secara teknik, indah secara gerak, dan tetap berakar pada tradisi,” lanjutnya.
Selain sebagai identitas, jurus pembuka ini juga akan menjadi bagian dari kurikulum pembinaan berbasis pondok pesantren dan boarding school yang tengah dikembangkan PERSINAS ASAD. Materi jurus akan dikemas dalam bentuk modul serta video pembelajaran sebagai standar nasional, yang diterapkan mulai dari tingkat pengurus provinsi hingga ranting.
Langkah ini dinilai penting untuk menjaga kesinambungan warisan budaya di tengah perkembangan zaman yang kian dinamis.
“Ini adalah upaya menjaga tradisi agar tidak hilang, sekaligus memastikan generasi muda memahami akar budaya dari pencak silat itu sendiri,” tutup Latief.
Melalui perumusan jurus pembuka lintas aliran ini, PERSINAS ASAD optimistis mampu memperkuat karakter pesilat sekaligus mempertegas posisi pencak silat sebagai warisan budaya yang hidup dan terus berkembang.

