ASAD Perkuat Kompetensi Pelatih, Wasit, Juri Lewat Sertifikasi Standar IPSI Angkatan Keempat
Jawa Barat — Selama sembilan hari, mereka tidak sedang mengejar medali. Tidak pula berdiri di tengah riuh penonton yang menunggu pertandingan dimulai.
Di Pusat Pendidikan Jasmani (Pusdikjas) Disjasad, Cimahi, Jawa Barat, para pelatih, wasit, dan juri justru kembali duduk sebagai peserta didik. Mereka menyimak materi, menguji pemahaman, hingga menjalani proses sertifikasi.
Tujuannya sederhana, tetapi penting: memastikan ketika kembali ke gelanggang, mereka mampu menjalankan perannya dengan standar yang sama.
Di balik penampilan seorang pesilat yang percaya diri di gelanggang, ada orang-orang yang bekerja membentuk kemampuan dan memastikan pertandingan berjalan sesuai aturan. Peran mereka mungkin tidak selalu menjadi pusat perhatian, tetapi kualitas pembinaan pencak silat tidak dapat dilepaskan dari kompetensi mereka.
Kesadaran tersebut menjadi bagian dari upaya Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) melalui Sertifikasi Wasit–Juri dan Kepelatihan Standar IPSI Angkatan Ke-4.
Kegiatan berlangsung selama sembilan hari, 7–15 September 2026, di Pusdikjas Disjasad, Cimahi. Program ini menjadi bagian dari pembinaan berkelanjutan untuk memperkuat kompetensi sumber daya manusia pencak silat, khususnya pelatih serta wasit dan juri.
Bagi seorang pesilat, pertandingan mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Namun, keputusan yang lahir dari pertandingan membutuhkan pemahaman aturan yang tidak dibangun dalam waktu singkat.
Begitu pula seorang pelatih. Kemampuan pesilat tidak hanya lahir dari latihan fisik, tetapi juga dari pengetahuan, metode, dan proses pembinaan yang dilakukan secara konsisten.
Karena itu, standardisasi menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas pencak silat, baik dari sisi pembinaan maupun pertandingan.
Sertifikasi tersebut diselenggarakan atas permohonan resmi Markas Besar TNI Angkatan Darat Dinas Jasmani (Mabesad Disjasad) melalui Surat Nomor B/768/VII/2026 tertanggal 13 Juli 2026.
Untuk memastikan standardisasi materi, PB IPSI menugaskan lima penguji nasional melalui Surat Tugas Nomor ST-33/PB IPSI/IX/2026.
Kelima penguji tersebut yakni Sunarno, S.H., M.H., Wakil Sekretaris Jenderal PB IPSI; Drs. Maryatno dari Bidang Litbang; Drs. Feri Hendarsin, M.Pd., dari Bidang Binpres; Drs. Hari Wibisono, M.Pd., wasit-juri nasional; serta H. Deni Hendrik Akbar, A.Md., wasit-juri nasional.
Persiapan kegiatan dan pembagian jadwal materi pengajaran telah disahkan Kepala Bagian Pendidikan atas nama Komandan Pusdikjas Disjasad pada 5 September 2026.
Sertifikasi Angkatan Ke-4 ini bukan program yang berdiri sendiri. Sebelumnya, kegiatan serupa telah dimulai melalui Angkatan Pertama di Mako Kopassus Batujajar, kemudian berlanjut pada Angkatan Kedua dan Ketiga di lingkungan Disjasad.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa regenerasi dalam pencak silat memiliki banyak lapisan.
Bukan hanya mencari pesilat muda untuk meneruskan prestasi, tetapi juga menyiapkan orang-orang yang akan mendampingi, melatih, menguji, dan mengawal perjalanan mereka di gelanggang.
Di sinilah peran perguruan pencak silat, termasuk PERSINAS ASAD, menjadi penting. Pembinaan pesilat membutuhkan ekosistem yang tidak hanya berorientasi pada prestasi, tetapi juga memiliki sumber daya manusia yang memahami standar kepelatihan dan pertandingan.
Di tengah berkembangnya berbagai cabang olahraga dan bela diri modern, pencak silat menghadapi tantangan untuk tetap relevan sekaligus menjaga jati dirinya.
Jawabannya bukan semata-mata mempertahankan tradisi, tetapi juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang berada di dalamnya.
Sembilan hari di Pusdikjas mungkin tidak menghasilkan tepuk tangan seperti kemenangan di arena. Tidak ada podium dan medali yang menjadi penanda keberhasilan.
Namun, proses seperti inilah yang perlahan menentukan kualitas pertandingan dan pembinaan pada masa mendatang.
Sebab, seorang pesilat tidak tumbuh sendirian.
Ada pelatih yang membimbingnya. Ada wasit dan juri yang mengawal pertandingan. Ada sistem yang memastikan seluruh proses berjalan berdasarkan aturan.
Ketika mereka kembali ke gelanggang setelah menyelesaikan proses sertifikasi, yang dibawa bukan hanya pengetahuan baru, tetapi juga tanggung jawab untuk menerapkan standar yang telah dipelajari.
Di situlah masa depan pencak silat dibangun. Bukan hanya ketika pesilat berdiri di tengah gelanggang, tetapi jauh sebelumnya, ketika orang-orang di belakangnya memilih untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, dan menjaga standar.
Dari Pusdikjas Cimahi, fondasi itu kembali diperkuat. Hari ini mungkin tidak terlihat seperti sebuah kemenangan, tetapi bagi generasi pencak silat berikutnya, proses tersebut bisa menjadi bagian penting dari perjalanan mereka menuju gelanggang.
