PERSINAS ASAD

ASAD Soroti Tantangan Pencak Silat Tradisional di Tengah Arus Modernisasi dan Perubahan Zaman

Yogyakarta — Pencak silat tradisional menghadapi tantangan besar di tengah arus modernisasi dan perubahan gaya hidup generasi muda. Perkembangan teknologi dinilai perlu disikapi secara terbuka, namun tetap dengan menjaga akar budaya dan nilai-nilai yang menjadi ruh pencak silat.

Pesan tersebut disampaikan Koordinator Komunitas Paseduluran Angkringan Silat (PAS) Yogyakarta, Suryadi atau yang akrab disapa Mas Suryo, saat membuka Sarasehan Pencak Silat Tradisional bertajuk “Pencak Silat di Persimpangan Zaman” di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (GIK UGM), Yogyakarta, Kamis (27/8/2026).

Sarasehan tersebut sekaligus menandai dimulainya rangkaian Pencak Wisata Budaya 5 yang digelar selama tiga hari, 27-29 Agustus 2026. Kegiatan ini mendapat dukungan dari Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY dan Paniradya Kaistimewan.

Di hadapan akademisi, budayawan, serta para sesepuh silat, Mas Suryo menekankan pentingnya kemampuan tradisi beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas.

“Kita boleh beradaptasi dengan zaman, tetapi jangan sampai adaptasi membuat kita kehilangan akar. Pohon yang kehilangan akar mungkin masih tampak berdiri, tetapi ia tidak akan lama bertahan,” kata Mas Suryo.

Menurutnya, perkembangan pencak silat di Indonesia saat ini berada pada dua jalur utama, yakni jalur prestasi dan jalur tradisi.

Jalur prestasi berkembang melalui kompetisi formal di bawah Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), dengan perhatian pada regulasi pertandingan, perolehan medali, serta pembinaan pesilat.

Sementara itu, pencak silat tradisional berkembang di ruang-ruang budaya, mulai dari padepokan, kampung, hingga lingkungan masyarakat. Pengetahuan silat tradisi umumnya diwariskan secara lisan dan melalui praktik langsung dari guru kepada murid.

Pencak silat tradisional, kata dia, tidak hanya mengajarkan kemampuan fisik dan bela diri. Di dalamnya terdapat tata krama, spiritualitas, filosofi, pengendalian diri, serta nilai-nilai kehidupan.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah masih minimnya dokumentasi tertulis mengenai berbagai tradisi pencak silat.

Banyak perguruan sepuh dan ajaran para maestro silat yang belum terdokumentasikan secara memadai dalam ruang akademik maupun literatur sejarah. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat menyulitkan proses regenerasi ketika para penutur atau guru senior sudah tidak lagi ada.

Karena itu, Mas Suryo mengajak kalangan akademisi untuk lebih dekat dengan akar tradisi. Salah satunya dengan turun langsung ke padepokan untuk mendokumentasikan pengetahuan dan kekayaan budaya pencak silat yang berkembang di masyarakat.

“Jangan hanya membicarakan tradisi dari luar. Akademisi perlu datang ke padepokan, bertemu para guru, melihat praktiknya, dan membantu mendokumentasikan pengetahuan yang ada,” ujarnya.

Komunitas PAS Yogyakarta sendiri telah berdiri sejak 2012 dan menjadi ruang perjumpaan lintas perguruan silat. Melalui Pencak Wisata Budaya 5, semangat pelestarian pencak silat tradisional kembali digaungkan melalui berbagai kegiatan di Yogyakarta.

Setelah sarasehan di GIK UGM, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Camp Pencak Wisata Budaya di Turi, Sleman. Agenda lainnya meliputi workshop, bazaar, serta lomba koreografi dan mewarnai untuk anak-anak di Taman Pintar pada 28-29 Agustus 2026.

Rangkaian Pencak Wisata Budaya 5 kemudian ditutup dengan Pagelaran Malam Puncak dan Pertunjukan Pencak Silat di kawasan Titik Nol Kilometer Malioboro pada Sabtu (29/8/2026) malam.

Mas Suryo menegaskan pencak silat pada dasarnya bukan sekadar sarana untuk mengalahkan lawan. Lebih dari itu, pencak silat memiliki tanggung jawab untuk membangun persaudaraan dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan.

“Mari kita pastikan pencak silat tradisional tidak berhenti di persimpangan. Kita tuntun ia memilih jalan kebudayaan, jalan persaudaraan, dan jalan menuju masa depan,” pungkasnya.