Kakak Beradik Bela PERSINAS ASAD, Bukti Regenerasi Pesilat Berjenjang dan Berkarakter
Papua Barat (15/07) – Kejuaraan Kasuari Championship II Tahun 2026 yang berlangsung pada 8–10 Juli 2026 telah usai. Namun, di balik raihan medali yang diraih para pesilat, terdapat kisah menarik tentang keberhasilan PERSINAS ASAD membangun regenerasi yang berjenjang, menyeluruh, dan berkelanjutan melalui pembinaan keluarga.
Selama ini, perhatian publik kerap tertuju pada jumlah medali yang diperoleh para pesilat. Padahal, proses panjang di balik lahirnya seorang juara menjadi bagian penting yang menunjukkan kualitas sistem pembinaan sebuah perguruan. Hal itu terlihat dari keikutsertaan sejumlah kakak beradik yang sama-sama membela PERSINAS ASAD pada ajang tersebut.
Mereka adalah Andhika Irfan Ubaidillah (18) dan Faiz Wahyu Ramadhan (19), putra dari Bambang Sumanto. Selain itu terdapat Abi Abdillah Al-Anshori (19), Adli Muhammad Firdaus (13), dan Arsal Malik Algifari (10), putra-putra H. Suroto yang juga menjabat sebagai Ketua LDII Papua Barat. Sementara dari keluarga Sudarto, yang merupakan Wasit Juri Nasional, tampil Arkana Hafizh Abdillah (11), Zuhael Muhammad Raka (5), dan Naura Hafizah (8).
Kehadiran kakak beradik dari berbagai keluarga tersebut menunjukkan bahwa pembinaan di PERSINAS ASAD tidak hanya menyentuh individu, tetapi juga tumbuh menjadi budaya dalam keluarga. Regenerasi berlangsung secara berjenjang mulai dari usia dini hingga remaja, sehingga kesinambungan pembinaan dapat terus terjaga.
Lebih dari sekadar mengajarkan teknik pencak silat, PERSINAS ASAD menanamkan nilai-nilai karakter luhur kepada setiap pesilat. Kedisiplinan, dedikasi, loyalitas, integritas, komitmen, sportivitas, dan tanggung jawab menjadi bagian dari proses pendidikan yang dijalani secara konsisten. Nilai-nilai tersebut diharapkan mampu membentuk generasi yang berakhlakul karimah, mandiri, dan siap memberikan manfaat bagi masyarakat.
H. Suroto yang menyaksikan langsung putra-putranya bertanding di Gedung KNPI Papua Barat mengaku merasakan manfaat besar dari pembinaan yang dilakukan PERSINAS ASAD.
Menurutnya, latihan rutin menjadi sarana positif bagi anak-anak untuk mengisi waktu setelah belajar di sekolah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap permainan daring.
“Pembinaan di PERSINAS ASAD sangat membantu orang tua. Anak-anak memiliki kegiatan yang positif setelah pulang sekolah sehingga waktu mereka lebih banyak diisi dengan latihan, belajar disiplin, dan membangun kebersamaan dibandingkan bermain game online,” ujar H. Suroto.
Ia menambahkan, di tengah derasnya arus teknologi digital yang cenderung membuat anak-anak lebih banyak berinteraksi dengan gawai, pencak silat justru mengajarkan kemampuan sosial yang semakin dibutuhkan generasi muda.
Melalui latihan dan pertandingan, para pesilat belajar berkomunikasi, bekerja sama dalam tim, memimpin kelompok, mengambil keputusan, menghargai kemenangan, serta menerima kekalahan dengan lapang dada. Karakter-karakter tersebut dinilai menjadi bekal penting dalam menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.
Keikutsertaan banyak kakak beradik pada Kasuari Championship II 2026 menjadi gambaran nyata bahwa sistem pembinaan PERSINAS ASAD berjalan secara menyeluruh dan berkesinambungan. Regenerasi yang terus terjaga ini diharapkan mampu melahirkan lebih banyak pesilat berprestasi sekaligus menjadi generasi penerus bangsa yang berkarakter luhur, berintegritas, dan siap menjaga warisan budaya pencak silat Indonesia.
