PERSINAS ASAD

Kisah Inspiratif Eka Yulianto: Meraih Puncak Prestasi Pencak Silat Nasional dengan Mental Baja dan Doa Ibu

Jakarta (08/04) – Mantan pesilat pencak silat nasional, Eka Yulianto, membagikan kisah luar biasa perjalanannya menembus panggung olahraga nasional dan internasional dalam sebuah acara gelar wicara inspiratif Genfest Expo Munas X LDII 2025 di Padepokan Pencak Silat PERSINAS ASAD. Dari yang awalnya bercita-cita besar menjadi pemain sepak bola profesional hingga akhirnya menemukan takdir kesuksesannya di arena pencak silat, Eka membuktikan bahwa kesuksesan sejati lahir dari perpaduan antara target yang kuat, ketahanan mental, dan kepasrahan total kepada Sang Pencipta.

Eka memulai langkahnya di cabang olahraga silat pada tahun 2003 dan harus melalui proses panjang selama tujuh tahun sebelum akhirnya dipercaya masuk ke dalam Tim Nasional pada tahun 2010 untuk ajang World Championship di Thailand. Ia menekankan bahwa perbedaan utama antara pesilat biasa dan pesilat profesional bermental juara terletak pada kejelasan target sejak hari pertama berlatih. Eka menuturkan bahwa setiap tetes keringatnya saat latihan selalu didasari oleh tujuan yang pasti, “Kalau saya sudah mulai latihan, saya sudah mencanangkan target saya, saya ingin juara,” tegasnya.

Perjalanan karier Eka dipenuhi dengan ujian fisik dan mental yang luar biasa. Ia pernah merasakan empat kali cedera patah tulang, dengan momen yang paling menguji mentalnya terjadi pada ajang Pra-Kualifikasi PON tahun 2020 di Jakarta. Saat bertanding sparring dua minggu sebelum acara utama, tangan kanannya mengalami patah tulang, membuatnya seakan kehilangan seluruh tenaga.

Di tengah bayang-bayang dicoret dari tim oleh pelatihnya karena cedera tersebut, Eka bangkit di malam sepertiga malam sambil menangis dan memohon kekuatan kepada Allah untuk tetap bisa berlaga. Bermodalkan deker lutut dan perban (taping) yang disembunyikan agar tidak menjadi sasaran lawan, serta dibekali kekuatan spiritual dari salat hajat, secara menakjubkan Eka mampu memenangkan empat pertandingan beruntun dan meraih gelar juara, murni mengandalkan satu tangan yang sehat dan pertolongan Alloh.

Selama menghadapi momen-momen paling kritis dan rentetan kegagalan baik di arena maupun saat beberapa kali gagal mendaftar sebagai anggota kepolisian dan TNI, Eka memiliki tiga pegangan kuat: berhusnuzan (berprasangka baik kepada Allah), sabar, dan memperbanyak doa. Ia juga menyebutkan bahwa doa dan kepekaan batin seorang ibu adalah “jimat” terkuat yang membantunya meraih kemenangan, dan menyarankan setiap pesilat muda untuk tidak pernah melupakan restu orang tua sebelum turun ke gelanggang. Saat tertinggal poin, prinsip mental juaranya sangat sederhana namun mendalam: selama juri belum menghentikan pertandingan, di sana selalu ada peluang juara karena “impossible is nothing”.

Untuk para pesilat pemula dan generasi muda yang masih menyimpan keraguan dalam hati mereka, pesannya sangat lugas dan menginspirasi. Ia meminta agar generasi penerus berani “mulai aja dulu” tanpa perlu memusingkan jaminan medali atau keberhasilan di masa depan.

Eka percaya bahwa ketika seseorang sudah memulai dengan keyakinan, usaha pantang menyerah, dan doa yang tulus, maka Tuhan yang akan membukakan jalan menuju keberhasilan tersebut. Kini, setelah gantung sabuk sebagai pesilat, kisah heroik Eka Yulianto terus berlanjut melalui pengabdiannya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kemenpora, di mana ia bertugas membina para pelatih silat untuk melahirkan juara-juara baru di masa depan.