Rawat Seni Tradisi, ASAD Perkuat Fondasi Prestasi dari Aliran Kuntau
Indramayu, 11 September 2026 — Prestasi tidak lahir semata-mata dari latihan fisik dan pertandingan. Di balik capaian para pesilat di gelanggang, terdapat nilai, keilmuan, sejarah, dan tradisi yang menjadi fondasi perjalanan sebuah perguruan. Semangat itulah yang terus dijaga PERSINAS ASAD melalui upaya melestarikan seni tradisi yang menjadi bagian dari jati dirinya.
Dalam rangka menjaga keberlanjutan keilmuan tersebut, perwakilan PB PERSINAS ASAD melakukan agenda silaturahim ke kediaman Mbah Mad atau Ahmad Saifulloh di Indramayu, Jumat (11/9/2026). Silaturahim ini menjadi bagian dari ikhtiar untuk merawat dan melestarikan keilmuan Kuntau Dermayon, salah satu seni tradisi yang memiliki peran penting dalam perjalanan PERSINAS ASAD.
Kuntau Dermayon merupakan salah satu aliran yang menjadi bagian dari sembilan aliran pembentuk PERSINAS ASAD.
Karena itu, pelestarian keilmuan tersebut tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga menjadi upaya menjaga akar dan identitas keilmuan pencak silat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Bagi PERSINAS ASAD, seni tradisi dan prestasi bukanlah dua hal yang berjalan sendiri-sendiri. Tradisi memberikan karakter, nilai, dan identitas, sementara prestasi menjadi salah satu bentuk aktualisasi dari proses pembinaan yang berkelanjutan. Dengan menjaga akar tradisinya, PERSINAS ASAD diharapkan mampu melahirkan generasi pesilat yang tidak hanya berprestasi di gelanggang, tetapi juga memahami serta menghargai warisan keilmuan yang membentuk perguruan.
Agenda silaturahim tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk terus mengembangkan seni tradisi PERSINAS ASAD, khususnya dalam menjaga keberadaan Kuntau Dermayon sebagai bagian dari kekayaan keilmuan perguruan.
Upaya ini juga menjadi penting di tengah perkembangan pencak silat yang semakin kompetitif.
Penguatan prestasi perlu berjalan beriringan dengan penguatan karakter dan identitas. Dengan demikian, pesilat PERSINAS ASAD tidak hanya dituntut untuk mampu meraih prestasi, tetapi juga memiliki kesadaran terhadap nilai-nilai yang menjadi akar keilmuannya.
